1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
  • Desa Bali
  • Hutan
  • Lenggong 2
  • Lenggong 1
  • Panen
  • Tari Bali
Previous
Next

Seni Lukis Impresionisme

Aliran Impresionisme adalah suatu bentuk aliran karya seni lukis yang mengutamakan curahan batin secara bebas dalam menggali obyek lukis yang dibayangkan dengan imajinasi dan perasaan.
 
Seniman-seniman impresionis membuat lukisan yang memberikan kesan pantulan cahaya ke mata, bentuk lukisan kabur, tanpa fokus atau bentuknya hanya merupakan kesan dari suatu objek

Lukisan Kuas Dan Palet

Beberapa alat lukis yang sering digunakan untuk melukis adalah kuas dan palet. Perbedaan keduannya terletak pada sudut hasil lukis.
 
Pada lukisan kuas sudut hasil lukisan membentuk garis lengkung sehingga lebih menyerupai bentuk asli obyek lukis adapun pada lukisan palet, sudut hasil lukis terlihat lebih tajam

Seni Lukisan Indonesia

Seni lukis modern Indonesia telah dimulai sejak penjajahan Belanda di Indonesia. Penjajah belanda membawa pengaruh seni rupa Eropa yang banyak menganut aliran romantisme ke Indonesia sehingga banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini. Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan oleh pelukis Belanda. Raden Saleh kemudian melanjutkannya dengan belajar melukis ke negeri Belanda, hingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa.
 
Seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans di Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama. Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan".
 
Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum penjajah pada masa itu. Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.
 
Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi penjajah membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka, sehingga era ekspresionisme dimulai.